Berita lainnya>>
Berita lainnya>>
Berita lainnya>>
Berita lainnya>>
Berita lainnya>>
Berita lainnya>>
[ ]
Latest News Updates
Berita lainnya>>
Berita lainnya>>
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
By DPC PKS Kraton | 24 Jun 2013 | Posted in , | With 0 comments
Zuhrif Hudaya: DAKWAN DAN MANUSIA [3]: Dakwah hadir untuk menjadikan hal-hal yang mendasar dalam syariah tetap menjadi milik semua manusia. Dakwah hadir untuk menjadikan Selengkapnya..
By DPC PKS Kraton | 20 Jun 2013 | Posted in , | With 0 comments
Zuhrif Hudaya: DAKWAH DAN MANUSIA [2]: Manusia yang sebenar-benarnya manusia tidak boleh menjadi budak atas manusia yang lainnya. Manusia yang sebanarnya bukan penjajah,selengkapnya..
By pks kraton | 16 Jun 2013 | Posted in , , | With 0 comments
Zuhrif Hudaya: DAKWAH DAN MANUSIA [1]: Memanusiakan manusia itulah cita-cita partai dakwah. Menempatkan manusia pada posisi yang terhormat dan terlindungi.  Selengkapnya...

By DPC PKS Kraton | 18 Feb 2013 | Posted in | With 0 comments

SAUDARAKU, kalau jantung adalah kotak dan hati adalah udara yang ada di dalamnya, maka dimanakah posisi akal dan nafsu ?

Akal dan nafsu digambarkan seperti dua buah senar yang dibentangkan di atas lobang kotak tadi, bilamana sang senar dipetik maka pastilah terdengar bunyi atau suara. Suara yang dihasilkan oleh petikan senar tersebut ada dua macam  yaitu suara senar dan suara resonansi.

Suara resonansi sesungguhnya timbul akibat suara senar menggetarkan udara yang ada di dalam kotak. Artinya suara resonansi adalah suara senar juga, yang jarak antar keduanya sangatlah tidak nyata,  hingga kita menyimpulkannya sebagai bersamaan. Di sisi lain kita punya pengalaman bahwa suara resonansi akan selalu  lebih nyaring (kuat) ketimbang suara aslinya.

Demikian pulalah yang terjadi saat salah satu di antara dua senar yang “melintang” di atas jantung hati, yaitu akal dan nafsu kita dipetik, akan terdengarlah dua suara, suara asli dan suara resonansi.

Petikan Senar Akal.

Saudaraku, saat kita memetik senar akal, lewat aktivitas kita berfikir, bertadabbur atau merenung, maka  akan terdengar  sebuah suara, namanya “ilmu”. Manakala suara ilmu ini menggetarkan “udara” hati, maka akan terdengar suara resonansi, namanya “hikmah” yang akan mendorong kita untuk sesegera mungkin melakukan “amal shalih”.  Jarak antara ilmu, hikmah dan amal shalih ini hanyalah sepersekian detik, nyaris tak berjarak. Dan suara (resonansi) “amal shalih” selalu akan lebih kuat bila dibanding dengan suara  akal yang sesungguhnya yaitu ilmu.

Fenomena seperti ini memberikan kesimpulan kepada kita, bahwa bilamana akal “terbentang” kuat di atas jantung hati, dan hatipun bersih tiada bertutup maka suara ilmu dan amal shalih ini akan menjadi suara merdu lagi syahdu yang membuat hidup ini semakin penuh warna dan makna; langkah kaki inipun tidak lagi mengenal letih apalagi henti, terus berlari menuju “maqam” tertinggi, hidup mulia di Sisi Allah Rabbul ‘Izati.

Petikan Senar Nafsu.

Saudaraku, bila ada orang yang kelewat berani memetik senar nafsunya, maka sebagaimana memetik senar akal, akan terdengarlah dua suara. Suara yang pertama namanya “syahwat”. Ketika syahwat ini teresonansi masuk ke dalam hati akan lahir suara kedua yaitu “amal thalih” (jelek). Jarak antara syahwat dan amal thalih inipun hanyalah sepersekian detik.

Jarang kita jumpai ada orang yang bisa mengontrol dirinya, saat sang syahwat ini sudah menguasai hati.

Saudaraku, di atas kita katakan bahwa orang yang memetik senar nafsunya adalah orang yang kelewat berani. Mengapa? Sebab yang sesungguhnya berhak memetik senar nafsu pada diri setiap manusia adalah “Dia” Sang Pencipta, Penguasa dan Pemelihara nafsu, Allah Rabbul ‘alamin.

Kapan seseorang dianggap telah memetik senar nafsunya? Saat manusia “memaksakan” diri menyertakan nafsu dalam aktivitas hidupnya, seperti memandang dengan nafsu, berkata dengan nafsu dan seterusnya.

Ya Allah, ampuni kami jikalau selama ini kami kurang sungguh-sungguh menjaga hati ini, membiarkannya dikuasai nafsu dan syahwat. Kuatkan diri ini ya Allah, agar agar kami selalu berkawan akrab dengan ilmu, hikmah dan amal shalih…
By pks kraton | 11 Feb 2013 | Posted in | With 0 comments

Kehidupan terus berputar. Terjerembab jangan membuat mata kita terus sembab. Terpuruk tak berarti masa depan kita buruk. Terkadang kita tergerus dosa, namun jangan sampai menjadi putus asa.
Ibnul Qayyim dalam kitab Madarijus Salikin mengutip ucapan salaf yang aneh terasa: “Adakalanya seorang hamba berbuat dosa, namun masuk surga. Dan adakalanya seseorang mengerjakan ketaatan, namun masuk neraka.”
Benar demikian, dosa dan kemaksiatan yang diikuti dengan pertaubatan sungguh-sungguh selalu melahirkan lompatan keimanan yang jauh lebih tinggi dari sebelum berbuat dosa. Sementara ketaatan yang diikuti rasa puas diri dan sikap jumawa akan menggerus pahala sampai titik nol yang sia-sia. Kesedihan dan penyesalan akan sebuah kesalahan adalah hal yang perlu, tapi berputus asa dan lemah semangat setelahnya adalah jauh dari sikap mereka para tokoh kesatria nan mulia.
Mari kita belajar dari sosok Nabi Sulaiman Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, satu-satunya di dunia ini yang diberikan tiga hal yang bahkan tidak diberikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tiga hal tersebut adalah kekayaan, kenabian dan kekuasaan. Namun tidak selamanya kehidupan beliau berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Ada satu episode kehidupan beliau yang bahkan dicatat dalam Al-Quran dan diperjelas dalam As-Sunnah, yang memberikan pelajaran bagi kita tentang sikap pertaubatan yang dahsyat.
Kisah ini termuat begitu lengkap dalam kitab hadits Bukhari dan Muslim, bagaimana suatu ketika Nabi Sulaiman Alaihis Salam begitu percaya diri mengumandangkan tekadnya: “Aku akan menggilir sembilan puluh sembilan istriku semalaman, yang kesemuanya akan melahirkan anak laki-laki yang berperang fi sabilillah.”
Ia merindukan generasi yang hebat, maka sebuah tekad yang dahsyat pun dilantunkan. Hanya saja pada waktu itu beliau tidak menambahkan kalimat ‘insya Allah” (jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak). Seorang sahabat beliau telah mengingatkan: “Ucapkan: Insya Allah.”
Namun beliau lalai dan tak hati-hati, terlupa nasihat sang sahabat dan langsung menjalankan apa yang ia tekadkan, menggilir istri-istrinya dalam satu malam.
Apa yang terjadi kemudian adalah episode keterpurukan dan ujian bagi Nabi Sulaiman Alaihis Salam. Dari 99 istrinya tersebut, ternyata hanya seorang saja yang melahirkan bayi dan itupun dalam keadaan cacat, digambarkan dalam hadits sebagai “setengah manusia”. Maka orang-orang pun meletakkan bayi itu di atas kursi Sulaiman, dan melihat hal tersebut Nabi Sulaiman pun terpuruk, bersedih mengingat ucapannya terdahulu.
Inilah yang digambarkan dalam surat Shad ayat 34 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengisahkan: “Dan Sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan dia (anaknya) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah cacat) kemudian ia (Sulaiman) bertaubat. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun menambahkan saat menceritakan kisah ini, sekiranya ia (Sulaiman) mengucapkan insya Allah, niscaya setiap istrinya akan hamil dan melahirkan seorang anak yang akan berjuang di jalan Allah.”
Dalam semangat yang begitu hebat untuk melahirkan generasi pejuang, nabi Sulaiman lalai dan diingatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagi sebagian orang ini adalah kelalaian yang sangat teknis dan sederhana, namun ternyata dibalik yang kecil itulah tersimpan cara dan hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji dan membesarkan Nabi Sulaiman. Apa yang terjadi setelahnya?
Nabi Sulaiman pun bertaubat, beliau meminta ampunan sekaligus penyesalan yang mendalam di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun itu tidak disertai kesedihan yang bertalu-talu, ataupun rasa putus asa yang menggurita dalam dada, justru sebaliknya Sulaiman tahu ia sedang diuji. Maka ia pun bertaubat dengan mengajukan permohonan yang lebih dahsyat dari yang ia capai sebelumnya. Sebuah istighfar segera disusul dengan proposal untuk mendapatkan kerajaan terbesar yang pernah dikenal dalam sejarah manusia. Dengan jelas lisan Sulaiman berujar: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi.“ (Shad:34-35)
Subhanallah, taubat yang melahirkan semangat dahsyat!
Dalam taubatnya nabi Sulaiman terus melanjutkan cita, bahkan ia mempunyai target yang lebih kuat, lebih besar, dari yang ia miliki sebelumnya. Sebuah kerajaan yang akan senantiasa dikenang dalam sejarah tentang kebesaran dan kekuasaannya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun memberikan kepada Sulaiman apa yang ia cita-citakan. Angin pun dalam genggaman, para jin tunduk di hadapan, bahkan penguasa-penguasa negeri lain siap bergabung dalam keislaman.
Pelajaran besar terpatri dalam hati, mari kita bertaubat layaknya Nabi Sulaiman. Sebuah pertaubatan yang akan menjadi hentakan sejarah, untuk mencapai kemenangan dan kejayaan jauh lebih besar dari yang kita capai pada hari ini.
Semoga bermanfaat dan salam optimis.
By pks kraton | 24 Jun 2011 | Posted in | With 0 comments

Pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM), Hasan Al Banna ternyata pernah menjadi anggota Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia di Mesir. Atas desakan IM, Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI. Dengan demikian, lengkaplah syarat-syarat sebuah negara berdaulat bagi RI.
***

H.A. Salim, Ketua Delegasi R.I., bersama H. Rasjidi menyampaikan terima kasih Indonesia kepada (alm) Syeikh Hassan Banna, Ketua Umum organisasi Ikhwanul Muslimin yang kuat sekali menyokong perjoangan Indonesia.


Kota pelabuhan Iskandariyah pertengah Juli 1945. Jam kayu di sebuah penginapan murah di kota pelabuhan Mesir telah enunjuk angka 22.00 waktu setempat. Di satu ruangan yang tak seberapa besar, empat-puluhan kelasi kapal berkebangsaan Indonesia berkumpul. Sejumlah mahasiswa Indonesia yang tengah studi di Mesir terlihat memimpin rapat.
Beda dengan pertemuan sebelumnya, malam itu atmosfir rapat terasa agak emosionil! Para kelasi Indonesia yang bekerja di berbagai kapal asing yang tengah merapat di Iskandariyah, Port Said, dan Suez itu banyak yang yakin, jihad fii sabilillah yang tengah digelorakan banga Indonesia melawan penjajah belanda dalam waktu dekat akan sampai pada puncaknya.
Muhammad Zein Hassan, salah seorang mahasiswa Indonesia yang hadir, berpesan pada para kelasi agar mulai menabung. “Di saat terjadinya jihad, mereka sebaiknya meninggalkan kapal-kapal sekutu agar tidak menodai perjuangan.”
Sambutan para kelasi yang dalam kesehariannya jauh dari tuntunan agama itu sungguh mengharukan. Mereka dengan sepenuh hati menyanggupi hal tersebut. “Jika fatwa sudah turun, kami akan mematuhi,” ujar salah seorang dari mereka.
Tak terasa, jam telah berada di angka satu. Acara ditutup dengan sumpah setia dengan perjuangan bangsanya yang nun jauh di seberang lautan. Seluruh peserta mengangkat tangan kanan dan dikepalkan. Dengan menyebut nama Allah SWT, mereka bertekad akan membantu dengan sekuat tenaga jihad fii sabilillah yang akan digelorakan bangsanya dalam waktu dekat ini.
Sumpah para kelasi tersebut tidak main-main. Terbukti di kemudian hari, dua bulan setelah proklamasi dibacakan Soekarno-Hatta, dua orang kelasi Indonesia tiba di Kairo dengan berjalan kaki dari Tunisia.
“Saat kami tanya mengapa berjalan kaki sejauh itu, mereka menjawab bahwa mereka menerima fatwa yang dibawa teman-teman mereka dari Indonesia. Fatwa itu menyatakan haram hukumnya bekerja dengan orang kafir yang memerangi kaum Muslimin,” ujar Zein Hassan.
Walau tidak punya cukup uang, dua orang kelasi itu segera meninggalkan kapal sekutu tempatnya bekerja dan berjalan kaki menuju Mesir, karena di Mesir-lah berada banyak orang sebangsanya.
Di Mesir sendiri kala itu tengah berkembang sikap antipati terhadap penjajahan Inggris. Sikap non kooperatif terhadap penjajah Inggris ini dicetuskan oleh organisasi Al-Ikhwan Al-Muslimun yang mendapat sambutan luar biasa dari rakyat Mesir.
Sebagai gerakan dakwah yang menembus sekat geografis, Al-Ikhwan Al-Muslimun telah memiliki “jaringan iman” dengan berbagai gerakan Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Sebab itu, ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Sekutu dengan sekuat tenaga memblock-out berita ini masuk ke Timur Tengah. Dikhawatirkan jika kemerdekaan Indonesia sampai didengar umat Islam di sana, ini bisa menjadi inspirasi bagi gerakan serupa di Timur Tengah.
Serapat-rapatnya sekutu menutup informasi ini, akhirnya pada awal September 1945, sebulan setelah kemerdekaan Indonesia dibacakan, berita ini sampai juga ke Mesir.
Mansur Abu Makarim, seorang informan Indonesia yang bekerja di Kedutaan Belanda di Kairo, membaca berita kemerdekaan Indonesia dalam suatu artikel di majalah Vrij Nederland. Bagai angin berhembus, berita ini dengan cepat menyebar ke Dunia Islam.
Koran dan radio Mesir memuat berita kemerdekaan RI dengan gegap gempita. Para penyiar dengan penuh semangat mengatakan bahwa inilah awal kebangkitan Dunia Islam melawan penjajahan Barat.
Di Mesir saat itu, seorang Arab hanya dihargai sepuluh pound Mesir jika dibunuh atau dilindas kendaraan militer Sekutu tanpa hak mengadu atau menggugat. Sebab itu, proklamasi kemerdekaan sebuah negeri Muslim terbesar di dunia ini disambut dengan luapan kebahagiaan.
Di sejumlah kota, Al-Ikhwan Al-Muslimun segera menggelar munashoroh besar-besaran mendukung penuh kemerdekaan Indonesia. Ini dijadikannya momentum momentum yang bagus untuk memerdekakan Mesir dari Inggris.
Bukan itu saja, sejumlah ulama di Mesir dan Dunia Arab dengan inisiatif sendiri membentuk “Lajnatud Difa’i'an Indonesia” (Panitia Pembela Indonesia). Badan ini dideklarasikan pada 16 Oktober 1945 di Gedung Pusat Perhimpunan Pemuda Islam dengan Jendral Saleh Harb Pasya sebagai pimpinan pertemuan.
Hadir dalam acara itu antara lain Syaikh Hasan Al Banna dan Prof. Taufiq Syawi dari Al-Ikhwan Al-Muslimun, Pemimpin Palestina Muhammad Ali Taher, dan Sekjen Liga Arab Dr. Salahuddin Pasya.
Dalam pertemuan yang semata didasari ukhuwah Islamiyah, pakar hukum internasional Dr. M. Salahuddin Pasya menyerukan negara-negara Islam untuk sesegera mungkin mendukung, membantu, dan mengakui kemerdekaan RI. Selain itu, Panitia Pembela Indonesia juga mengancam Inggris agar tidak membantu Belanda kembali ke Indonesia.
“Jika Inggris membantu Belanda untuk kembali ke Indonesia, maka Inggris akan menuai kemarahan Dunia Islam di Timur Tengah!” ancam Salahuddin Pasya.
Sejarah telah menulis, Inggris tetap membela “kawan seakidah” bernama Belanda. Pasukan NICA membonceng Sekutu kembali ke Indonesia.
Pada 25 Oktober 1945, sejumlah ulama NU pimpinan KH. Wahid Hasyim bertemu dan mengeluarkan fatwa jihad fii sabilillah melawan penjajah. Fatwa ini bergema ke seluruh nusantara dan disambut dengan gegap gempita.
Fatwa jihad inilah yang melatarbelakangi pertempuran 10 November 1945 di Surabaya (hingga kini 10 November diperingati sebagai hari Pahlawan di Indonesia, red.). Untuk memompakan keberanian rakyat Surabaya, Bung Tomo lewat corong radio perlawanan – cikal bakal RRI – terus menerus mengingatkan para mujahid bahwa gerbang surga telah terbuka luas bagi mereka yang syahid.
Hanya semangat jihad dan keridhaan Allah SWT yang mampu membuat ribuan rakyat Surabaya berani melawan pasukan Sekutu bersenjata lengkap.
Kedahsyatan pertempuran Surabaya bergema hingga ke Dunia Arab. Keberanian umat Islam Surabaya mengobarkan jihad melawan pasukan Sekutu yang habis mabuk kemenangan dalam Perang Dunia II, ditambah tewasnya satu Jenderal Sekutu – Malaby – di Surabaya, dirasakan oleh kaum Muslimin Timur Tengah sebagai bagian dari kemenangan Islam atas kaum kafir. Upaya perlawanan terhadap Inggris di Mesir pun kian membuncah.
Di berbagai lapangan dan Masjid di Kairo, Mekkah, Baghdad, dan negeri-negeri Timur Tengah, dengan serentak umat Islam mendirikan sholat ghaib untuk arwah para syuhada di Surabaya.
Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada salib menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme-Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.”
Dukungan negara-negara Islam di Timur Tengah terhadap kemerdekaan Indonesia tidak saja dilakukan dalam tingkat akar rumput, namun juga dalam dunia diplomasi. Dalam berbagai sidang di Perserikatan Bangsa-Bangsa, terlihat dengan jelas adanya perbedaan sikap antara negeri-negeri Muslim yang mendukung Indonesia dengan negeri-negeri salib yang memandang Indonesia masih bagian dari Belanda.
Wakil-wakil dari Indonesia di sidang PBB, diperbolehkan ikut sidang setelah negeri-negeri Arab mengakui kedaulatan RI, dalam menghadapi serangan pihak Sekutu sering menanggapinya dengan cara diplomatis dan terkesan lunak. Hal ini dikecam keras Muhammad Ali Taher dari Palestina.
“Mengapa kamu masih saja bersikap diplomatis terhadap seseorang yang ingin menghancurkan negeri kamu!” sergahnya mengingatkan wakil dari Indonesia agar tidak takut melawan kezaliman.
Di Mesir, sejak diketahui sebuah negeri Muslim bernama Indonesia memplokamirkan kemerdekaannya dari penjajah kafir, Al-Ikhwan Al-Muslimun tanpa kenal lelah terus menerus memperlihatkan dukungannya.
Selain menggalang opini umum lewat pemberitaan media, yang memberikan kesempatan luas kepada para mahasiswa Indonesia untuk menulis tentang kemerdekaan Indonesia di koran-koran lokal miliknya, berbagai acara tabligh akbar dan demonstrasi pun digelar.
Para pemuda dan pelajar Mesir, juga kepanduan Ikhwan, dengan caranya sendiri berkali-kali mendemo Kedutaan Belanda di Kairo. Tidak hanya dengan slogan dan spanduk, aksi pembakaran, pelemparan batu, dan teriakan-teriakan permusuhan terhadap Belanda kerap dilakukan mereka.
Kondisi ini membuat Kedutaan Belanda di Kairo ketakutan. Mereka dengan tergesa mencopot lambang negaranya dari dinding Kedutaan. Mereka juga menurunkan bendera merah-putih-biru yang biasa berkibar di puncak gedung, agar tidak mudah dikenali pada demonstran.
Kuatnya dukungan rakyat Mesir atas kemerdekaan RI, juga atas desakan dan lobi yang dilakukan para pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun, membuat pemerintah Mesir mengakui kedaulatan pemerintah RI atas Indonesia pada 22 Maret 1946.
Inilah pertama kalinya suatu negara asing mengakui kedaulatan RI secara resmi. Dalam kacamata hukum internasional, lengkaplah sudah syarat Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat.
Bukan itu saja, secara resmi pemerintah Mesir juga memberikan bantuan lunak kepada pemerintah RI. Sikap Mesir ini memicu tindakan serupa dari negara-negara Timur Tengah.
Untuk menghaturkan rasa terima kasih, pemerintah Soekarno mengirim delegasi resmi ke Mesir pada tanggal 7 April 1946. Ini adalah delegasi pemerintah RI pertama yang ke luar negeri. Mesir adalah negara pertama yang disinggahi delegasi tersebut.
Tanggal 26 April 1946 delegasi pemerintah RI kembali tiba di Kairo. Beda dengan kedatangan pertama yang berjalan singkat, yang kedua ini lebih intens. Di Hotel Heliopolis Palace, Kairo, sejumlah pejabat tinggi Mesir dan Dunia Arab mendatangi delegasi RI untuk menyampaikan rasa simpati. Selain pejabat negara, sejumlah pemimpin partai dan organisasi juga hadir. Termasuk pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun Hasan al Banna dan sejumlah tokoh Ikhwan dengan diiringi puluhan pengikutnya.
Setiap perkembangan yang terjadi di Indonesia, diikuti serius oleh setiap Muslim baik di Mesir maupun di Timur Tengah pada umumnya. Para mahasiswa Indonesia yang saat itu tengah berjuang di Mesir dengan jalan diplomasi revolusi, senantiasa menjaga kontak dengan Ikhwan.
Ketika Belanda melancarkan agresi Militer I (21 Juli 1947) atas Indonesia, para mahasiswa Indonesia di Mesir dan aktivis Ikhwan menggalang aksi pemboikotan terhadap kapal-kapal Belanda yang memasuki selat Suez.
Walau Mesir terikat perjanjian 1888 yang memberi kebebasan bagi siapa saja untuk bisa lewat terusan Suez, namun keberanian para buruh Ikhwan yang menguasai Suez dan Port Said berhasil memboikot kapal-kapal Belanda.
Pada tanggal 9 Agustus 1947, rombongan kapal Belanda yang dipimpin kapal kapal Volendam tiba di Port Said. Ribuan aktivis Ikhwan yang kebanyakan terdiri dari para buruh pelabuhan, telah berkumpul di pelabuhan utara kota Ismailiyah itu.
Puluhan motor boat dan motor kecil sengaja berkeliaran di permukaan air guna menghalangi motor-boat motor-boat kepunyaan perusahaan-perusahaan asing yang ingin menyuplai air minum dan makanan kepada kapal Belanda itu.
Motor-boat para ikhwan tersebut sengaja dipasangi bendera merah putih. Dukungan Ikhwan terhadap kemerdekaan Indonesia bukan sebatas dukungan formalitas, tapi dukungan yang didasari kesamaan iman dan Islam.
Walau pemimpin Ikhwan Hasan Al Banna menemui syahid ditembak mati oleh begundal rezim Mesir di siang hari bolong, 12 Februari 1949, dukungan ikhwan terhadap muslim Indonesia tidaklah berakhir. Dakwah tiada kenal kata akhir, hingga Islam membebaskan semua manusia.
___
Sumber: Majalah Saksi – No. 21 Tahun VI, 18 Agustus 2004. Oleh: Rizki Ridyasmara

Disadur dari :
By pks kraton | 22 Apr 2011 | Posted in | With 0 comments
IslamediaKetika saya ditanya seorang teman tentang tiga kelemahan dirinya, saya dengan cepat dan sigap menyebutnya satu persatu. Tetapi ketika kemudian saya ditanya lagi tentang tiga kelebihan dirinya, maka mulut saya seperti Aziz Gagap. Ehhhh…ehhhh…Lola. Loading Lambat. Berpikirnya lama. Sambil bertanya-tanya, “apa ya?”

Jelas sudah, ini tabiat manusia. Kalau dengan kelemahan,  keburukan atau aib seseorang pikiran kita dengan cepat mengumpulkan informasi itu. Atau sebenarnya memori terdalam kita sudah lama menjumput semua kelemahan-kelemahan orang lain seperti kita mengukir di atas batu. Tetapi jika dengan kebaikan seseorang kita mudah untuk melupakannya seperti menulis di atas air. 

Padahal di saat kita menimbang-nimbang kelemahan orang lain, sudah menunggu begitu banyak kelemahan diri yang perlu untuk dihitung-hitung. Inilah yang sering diungkap dalam sebuah pepatah yang mengatakan, “semut di seberang lautan tampak tetapi gajah di pelupuk mata tak tampak.” 

Maka sebenarnya jika diri kita mampu untuk mengevaluasi diri,  tidaklah  akan sempat kita untuk menghitung-hitung dan mencari-cari kelemahan atau aib orang lain. Pun karena takut, kalau-kalau Allah akan mengungkap aib kita kelak. Tidak hanya itu, Al Qarni dalam sebuah ungkapan menyebutkan bahwa  evaluasi diri mampu menjadikan harapan kita kepada orang lain lebih seimbang (tak berlebihan) dan membuat kita menjadi simpatik kepada orang yang berbuat kesalahan.

Setiap orang punya kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Itu sudah pasti. Dan untuk menjadi timbangan penilaian adalah sebanyak apapun kelebihan seseorang tetaplah ia bukan malaikat yang tak pernah berbuat kesalahan. Saat melihat kelemahannya maka kita memaklumi bahwa Ia hanya manusia yang tak sempurna, tempatnya lalai dan dosa. 

Atau dengan kata lain, dengan ukuran apa seseorang itu sudah dapat disebut sebagai orang yang baik atau orang yang  buruk. Tentu ukurannya adalah sejauh mana banyaknya kebaikan itu dapat menutupi keburukannya atau sebaliknya. Contohnya Kita lihat pada sosok yang satu ini.

Sosok Hajjaj bin Yusuf. Ia yang telah mengalungkan  kepada Anas bin Malik—ahli hadits dan sahabat nabi terkemuka—dengan sebutan yang sangat menghina. Lebih sadis lagi adalah apa yang pernah ia lakukan beberapa tahun sebelumnya dengan mengirim kepala Abdullah bin Zubair di atas nampan kepada junjungannya, Abdul Malik bin Marwan, yang berada di Damaskus. 

Tangan yang berlumuran darah dan membersitkan amisnya itu tak mampu menahan mantan kepala sekolah di Thaif ini untuk mengambil peran dalam kejayaan tamadun Bani Umayyah.  Reformasi ortografinya berupa pengembangan tanda baca untuk menghindari kesalahan dalam membaca Alqur’an menjadikannya monumental. Apakah kebaikannya lebih dikenal daripada keburukannya? Sudah barang tentu kekejian dan kesadisannya lebih dikenal daripada peran pentingnya itu. 

Seseorang ulama yang sudah dikenal dengan pengabdiannya kepada umat, buku-bukunya yang sudah tersebar ke seantoro dunia, kelurusan akidah serta moderatnya dalam fikih  yang sudah diakui pula, ketika melakukan satu kesalahan—bisa jadi berawal dari perbedaan pendapat dalam ijtihad yang diambil—apakah itu akan menghancurkan dan menutupi seluruh kebaikannya untuk umat itu? Tidak, sungguh tidak adil jika kita mengabaikannya. Kesalahan—jika masih disebut seperti itu—yang dilakukannya malah membuktikan bahwa dia adalah manusia yang tak sempurna. 

Tinggal bagaimana saudara seakidahnya ini dapat menutupi aib yang ada atau memberikan pemakluman kepada ulama itu. Karena masih ada 999 alasan lainnya untuk kita berlapang dada dengan kelemahan yang dimilikinya.
Saya teringat perkataan salah satu orang besar dunia, “Lupakan kesalahan orang lain seperti kita melupakan kebaikan yang pernah kita lakukan dan jangan pernah untuk melupakan kebaikan orang lain.”

“Ayo cepat, sebutkan segera tiga kelebihan saya untuk diisi dalam formulir ini,” tanya  teman saya lagi.

“Ee…eh,” saya masih saja tergagap-gagap.
Dasar.

***
Riza Almanfaluthi
By pks kraton | 19 Apr 2011 | Posted in | With 0 comments
Ngakunya PKS tapi buka video xx!”
“ Dasar mau aja dibodohin sama petinggi-petingginya. Gini nih kalau udah taqlid buta!”
“ Enak banget ya jadi orang PKS boleh punya istri banyak…hohoho…”

Komen-komen di beberapa account facebook itu terasa begitu kasar dan tidak enak dibaca. Darahku terasa mendidih sampai ke ubun-ubun. Gigiku merapat gemas. Ingin rasanya aku membalas cacian-cacian mereka dengan yang lebih keras dan lebih kasar lagi. Tapi kalau kulakukan, apa bedanya aku dengan mereka? Kubuka website yang memuat komentar-komentar tentang PKS.

“ Apa bedanya PKS dengan partai yang lain??”
“ PKS = Partai Koruptor Sejati “
“ PKS = Partai Selang**ngan Sejahtera “
“ Politik itu kotor maka PKS juga kotor!”

Aku tak mau melanjutkan membaca komen-komen itu. Sungguh menyakitkan bila kau mengetahui kebenaran tapi kebenaran itu dikoyak-koyak di depanmu. Tak sanggup aku untuk membaca komen-komen yang selalu bernada negatif terhadap PKS. Seolah mereka adalah hakim yang sedang mengeksekusi terdakwa. Seolah mereka adalah Malaikat yang tidak pernah melakukan kesalahn. Seolah tiada lagi kata maaf yang ada di dalm hati mereka.

“ Ente masih PKS ya? Kasian banget sih ente…”
“ Ane jadi pengamat aja dah…gak tertarik lagi ane gabung sama partai yang udah melenceng,”
“ Ane keluar dari PKS akh…karena PKS sudah tidak sesuai dengan misi yang diembannya?
“ Antum di bawah disuruh bekerja tapi yang di atas malah memperkaya diri!”

Kali lain aku menemui teman-teman yang bernada miring saat mereka melihatku mengenakan pin PKS, saat aku ikut aksi bersama PKS, atau pada saat aku mengirimi mereka berita tentang PKS. Mereka mengasihani diriku yang masih bertahan, mengasihani diriku yang dianggapnya dibodohi oleh para pimpinanku sendiri. Mereka mencoba untuk memberikan hal-hal yang menurut mereka adalah fakta tentang keburukan-keburukan PKS.

“ Nih faktanya!” seorang teman menyodori selembar artikel tentang PKS. Selembar artikel yang di dapatnya dari media nasional.
Aku tertegun saat membacanya. Ustadzku memperkaya dirinya sendiri? Bahkan untuk urusan hafalan Al-Qur’an dan hadits serta mentafsirkan suatu ayat mereka lebih fasih daripada aku dan temanku ini. Dalam hal beramal mungkin ustadzku lebih banyak ketimbang aku dan temanku. Untuk urusan ibadah mungkin mereka lebih hebat dari aku dan temanku.

Jadi, salahkah aku yang masih percaya terhadap pemimpin-pemimpinku yang masih menegakkan sholat? Salahkah aku yang masih percaya dengan pemimpin-pemimpinku yang masih senang membaca dan menghafal Al-Qur’an? Salahkah aku yang masih percaya dengan pemimpin-pemimpinku yang selalu mengalirkan airmata saat sholat malam mereka? Salahkah…????

“ PKS bukanlah malaikat, tidak bisa mengharapkan PKS untuk sempurna, karena kesempurnaan itu hanya milik Allah semata. Tetap rapatkan barisan!”
“ Sabar ya Ustadz Arifinto, kebenaran akan terkuak dan kebatilan akan terbongkar,”
“ Aku akan terus bersama PKS sampai ku tak bisa berbuat apa-apa lagi,”
“ Tetaplah bersabar wahai ikhwah. Biarkanlah mereka mencaci maki kita. Kita buktikan dengan kerja nyata kita,”

Terasa begitu damai hatiku membaca kalimat demi kalimat itu. Betapa orang yang menulis komen-komen itu bukanlah orang-orang yang berpikiran buruk. Orang-orang yang selalu mengedepankan husnudzon kepada para pemimpin-pemimpin mereka. Karena bagi mereka selama masih bisa bekerja nyata tak perlu menanggapi komentar-komentar negatif yang hanya bisa membuang energi.

“ Yass, jangan lupa besok datang rapat tim media ya!”

Itu adalah Mbak Ningsih. Seorang Ummahat yang begitu aktif di PKS mengurusi media. Dia yang mempunyai dua orang anak yang masih kecil-kecil tapi begitu gesitnya bergerak. Berjalan jauh dari rumahnya hanya untuk rapat yang dibayar pun tidak. Justru mungkin banyak uang yang keluar dari kantongnya. Apakah ini yang disebut orang yang melenceng? Apakah ini kader bayaran, yang hanya mau bekerja jika dibayar?

Kadang aku pun begitu terenyuh melihat para kader-kader yang begitu tawadhu. Dalam beberap kali kesempatan kulihat beberapa ummahat dengan pakaian sederhana dan jilbab yang biasa saja begitu semangatnya berjalan dalam aksi dunia Islam. Kulihat lagi seorang ikhwan yang tampil apa adanya sambil membimbing beberapa simpatisan dalam acara milad PKS kemarin. Lalu kulihat tim fotografer dengan lensa-lensa panjang mereka yang sibuk membidik moment-moment penting dalam acara-acara yang diadakan PKS. Dalam account facebook banyak teman yang meng-upload foto-foto dan berita tentang PKS. Apakah mereka semua dibayar? Bagi mereka kenikmatan berjama’ah lebih dari sekedar bayaran. Begitu terenyuh aku melihat orang-orang seperti mereka.

Di dalam sebuah rapat persiapan milad PKS ke 13 kemarin banyak teman-teman yang berlomba-lomba dalam kebaikan.

“ Kita harus memberikan pelayanan terbaik kepada para simpatisan. Untuk itu kita berikan mereka yang terbaik,”
“ Ane mungkin tidak bisa memberikan banyak, ane menyumbang air mineral saja lima dus,”
“ Ane menyumbang konsumsi nasi bungkus 50 bungkus ya!”
“ Ane tambahkan dana untuk menyewa bis AC,”

Siapa yang tidak meleleh melihat peristiwa ini. Dan sebagai catatan kebanyakan dari mereka bukanlah orang-orang yang bekerja dengan gaji tinggi, tetapi mungkin dengan gaji yang pas-pasan. Tetapi bagi mereka beramal tidaklah memandang gaji. Merekakah kader bayaran? Masih pantaskan mereka dissebut kader bayaran?

Dan pun saat caci maki dari seorang yang keluar dari barisan kami mendera pemimpin-pemimpin kami, menuduh mereka korupsi, menuduh mereka berzina, menuduh mereka dengan segala hal yang tak pantas diucapkan seorang ustadz, tak ada satu pun cacian balik yang keluar dari pemimpin-pemimpin kami. Sebaliknya, mereka menyuruh kami untuk tidak membalas apapun yang dikatakan orang itu. Bagi mereka masih banyak urusan ummat yang harus dikerjakan ketimbang menanggapi berita-berita yang mengikis keikhlasan itu. Inikah, pemimpin yang mereka bilang membodohi kami??

Aku pun hanya bisa tersenyum lebar saat aku hadir di GBK menghadiri Milad PKS ke 13. Sungguh aku semakin yakin dengan barisan ini. Di saat banyak fitnah dan cercaan melanda, justru GB tak sanggup menampung jumlah pejuang di barisan ini. Air mata kebahagian dan haru terasa berdesakan memilhat moment berharga ini. Sungguh bahwa Allah akan selalu bersama dengan hamba-hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya. Sabar ya ustadz, sabar ya saudara-saudaraku….usahlah fitnah itu ditanggapi karena sesungguhnya Allah tidak pernah tertidur. Tugas kita hanya bekerja, mengajak orang sebanyak-banyaknya masuk ke surga. Kita rapatkan barisan kita untuk dakwah. Bening kaca menghangat di pipiku.

“ Buka mata lo…Lo tuh dibutain sama dunia?? Liat tuh pemimpin-pemimpin lo!!”

Satu komentar miring lagi. Tak perlu waktu lama bagiku mencari tulisan “blokir orang ini”. Klik…selamat tinggal wahai kau yang menggerus keikhlasanku!

“…karena sebagaimanapun kita berusaha membenarkan fikrohnya, hatinya sudah terkunci. ibarat ilmu itu air, dan otak kita adalah wadahnya. ketika dia tidak mengosongkan wadahnya, maka kita tidak akan bisa menuangkan air kedalamnya kecuali akan tumpah..”

Dan ini dari seorang kader PKS***(yas)

Jakarta, April 18, 2011
@my office 14.34 pm
Semoga kita selalu ikhlas..