Sigap Terhadap Aib, Gagap Terhadap Kelebihan
Islamedia – Ketika
saya ditanya seorang teman tentang tiga kelemahan dirinya, saya dengan
cepat dan sigap menyebutnya satu persatu. Tetapi ketika kemudian saya
ditanya lagi tentang tiga kelebihan dirinya, maka mulut saya seperti
Aziz Gagap. Ehhhh…ehhhh…Lola. Loading Lambat. Berpikirnya lama. Sambil bertanya-tanya, “apa ya?”
Jelas
sudah, ini tabiat manusia. Kalau dengan kelemahan, keburukan atau aib
seseorang pikiran kita dengan cepat mengumpulkan informasi itu. Atau
sebenarnya memori terdalam kita sudah lama menjumput semua
kelemahan-kelemahan orang lain seperti kita mengukir di atas batu.
Tetapi jika dengan kebaikan seseorang kita mudah untuk melupakannya
seperti menulis di atas air.
Padahal
di saat kita menimbang-nimbang kelemahan orang lain, sudah menunggu
begitu banyak kelemahan diri yang perlu untuk dihitung-hitung. Inilah
yang sering diungkap dalam sebuah pepatah yang mengatakan, “semut di
seberang lautan tampak tetapi gajah di pelupuk mata tak tampak.”
Maka
sebenarnya jika diri kita mampu untuk mengevaluasi diri, tidaklah
akan sempat kita untuk menghitung-hitung dan mencari-cari kelemahan atau
aib orang lain. Pun karena takut, kalau-kalau Allah akan mengungkap aib
kita kelak. Tidak hanya itu, Al Qarni dalam sebuah ungkapan menyebutkan
bahwa evaluasi diri mampu menjadikan harapan kita kepada orang lain
lebih seimbang (tak berlebihan) dan membuat kita menjadi simpatik kepada
orang yang berbuat kesalahan.
Setiap
orang punya kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Itu sudah pasti.
Dan untuk menjadi timbangan penilaian adalah sebanyak apapun kelebihan
seseorang tetaplah ia bukan malaikat yang tak pernah berbuat kesalahan.
Saat melihat kelemahannya maka kita memaklumi bahwa Ia hanya manusia
yang tak sempurna, tempatnya lalai dan dosa.
Atau
dengan kata lain, dengan ukuran apa seseorang itu sudah dapat disebut
sebagai orang yang baik atau orang yang buruk. Tentu ukurannya adalah
sejauh mana banyaknya kebaikan itu dapat menutupi keburukannya atau
sebaliknya. Contohnya Kita lihat pada sosok yang satu ini.
Sosok
Hajjaj bin Yusuf. Ia yang telah mengalungkan kepada Anas bin
Malik—ahli hadits dan sahabat nabi terkemuka—dengan sebutan yang sangat
menghina. Lebih sadis lagi adalah apa yang pernah ia lakukan beberapa
tahun sebelumnya dengan mengirim kepala Abdullah bin Zubair di atas
nampan kepada junjungannya, Abdul Malik bin Marwan, yang berada di
Damaskus.
Tangan
yang berlumuran darah dan membersitkan amisnya itu tak mampu menahan
mantan kepala sekolah di Thaif ini untuk mengambil peran dalam kejayaan
tamadun Bani Umayyah. Reformasi ortografinya berupa pengembangan tanda
baca untuk menghindari kesalahan dalam membaca Alqur’an menjadikannya
monumental. Apakah kebaikannya lebih dikenal daripada keburukannya?
Sudah barang tentu kekejian dan kesadisannya lebih dikenal daripada
peran pentingnya itu.
Seseorang
ulama yang sudah dikenal dengan pengabdiannya kepada umat, buku-bukunya
yang sudah tersebar ke seantoro dunia, kelurusan akidah serta
moderatnya dalam fikih yang sudah diakui pula, ketika melakukan satu
kesalahan—bisa jadi berawal dari perbedaan pendapat dalam ijtihad yang
diambil—apakah itu akan menghancurkan dan menutupi seluruh kebaikannya
untuk umat itu? Tidak, sungguh tidak adil jika kita mengabaikannya.
Kesalahan—jika masih disebut seperti itu—yang dilakukannya malah
membuktikan bahwa dia adalah manusia yang tak sempurna.
Tinggal
bagaimana saudara seakidahnya ini dapat menutupi aib yang ada atau
memberikan pemakluman kepada ulama itu. Karena masih ada 999 alasan
lainnya untuk kita berlapang dada dengan kelemahan yang dimilikinya.
Saya
teringat perkataan salah satu orang besar dunia, “Lupakan kesalahan
orang lain seperti kita melupakan kebaikan yang pernah kita lakukan dan
jangan pernah untuk melupakan kebaikan orang lain.”
“Ayo cepat, sebutkan segera tiga kelebihan saya untuk diisi dalam formulir ini,” tanya teman saya lagi.
“Ee…eh,” saya masih saja tergagap-gagap.
Dasar.
***
Riza Almanfaluthi






