Menyublim Kepedihan
Islamedia
- Sesungguhnyalah epos setiap pahlawan dan pejuang selalu menyimpan
kisah-kisah kepedihan. Karena semua pahlawan, semua orang besar, tidak
bisa menghindarkan diri dari keterbatasan dirinya yang tidak dimengerti
publik. Kebesaran nama dirinya telah menyihir opini masyarakat, seakan
dia adalah manusia tanpa cela, serba sempurna dan serba tidak ada
kekurangannya. Di titik ini, setiap pejuang ditempatkan secara terasing,
di posisi yang tidak dia kehendaki.
Ada pejuang yang
memilih menjaga citra diri dengan mencoba menjadikan dirinya sesuai
harapan publik. Tentu ini tidak mudah. Dia adalah magnet bagi kamera
media. Omongannya, responnya, perbuatannya, tindakannya, adalah sebuah
berita. Semua mata memandang kepadanya, dimanapun ia berada. Tak ada
ruang privat lagi bagi orang seperti dirinya. Media bisa masuk ke semua
ruang-ruang pribadinya.
Dengan pilihan ini,
ia harus menjadi seseorang seperti yang diharapkan publik. Bukan menjadi
dirinya sendiri yang memiliki banyak keterbatasan. Namun ia harus
menjadi hero, menjadi superman, menjadi seseorang yang selalu diidolakan
semua kalangan masyarakat. Tak ada kesempatan bagi dirinya untuk
menjadi dirinya sendiri, menjadi manusia biasa yang bisa menangis, bisa
salah, bisa lupa, bisa khilaf, bisa berbuat dosa. Dia dipaksa menjadi
seseorang seperti harapan masyarakat terhadap sosok pahlawan dan
pejuang. Bahwa para pahlawan selalu tampil elegan, tanpa cela, tanpa
cacat. Sedikitpun.
Celakanya, para
pemuja sosok pahlawan ini hampir tidak bisa membedakan mana sosok
manusia biasa yang tengah berusaha menjadi pejuang atau pahlawan, dengan
manusia pilihan yang Tuhan takdirkan menjadi Nabi. Bagi seorang Nabi
utusan Tuhan, dirinya mendapatkan dukungan Ketuhanan secara penuh.
Karena semua perkataan dan perbuatannya adalah hukum untuk diikuti oleh
pemeluk agama sang Nabi. Berbeda dengan manusia yang lainnya, kendati
dia adalah seseorang yang berusaha menempatkan diri dalam barisan para
pejuang dan para pahlawan, namun tetap saja dia adalah manusia biasa.
Sebuah harapan yang
berlebihan bahkan absurd. Saat dunia telah sangat lama ditinggalkan oleh
Nabi terakhir, akhirnya menjadi defisit keteladanan dan contoh
kebaikan. Dunia muak dengan kemunafikan dan kepura-puraan yang sering
ditampakkan banyak aktor politik dan banyak pejabat publik. Masyarakat
menghendaki dan mencoba mengidentifikasi tokoh-tokoh yang bisa menjadi
sumber inspirasi dan keteladanan dalam kehidupan. Sangat langka. Begitu
menemukan beberapa gelintir orang yang dianggap masih memiliki harapan
untuk menjadi panutan, maka harapan mereka menjadi berlebihan dan tidak
masuk akal.
Para pejuang ini
telah dipajang dalam bingkai harapan yang sangat ideal. Tak boleh
berdebu, mereka bersihkan setiap hari dengan puji-pujian dan sejuta doa.
Para pejuang ini yang akan menjadi penyelamat bangsa, akan menjadi
harapan perubahan bagi Indonesia. Sebuah obsesi yang lahir dari dahaga
berkepanjangan akan munculnya sosok keteladanan dari para pahlawan.
Sangat lama masyarakat menunggu para pahlawan yang akan mensejahterakan
rakyat Indonesia dan membebaskan masyarakat dari kebodohan, kemiskinan,
kelaparan, ketertinggalan dan keterbelakangan.
Para pejuang telah
ditempatkan pada posisi yang mustahil melakukan kesalahan. Mereka tidak
ditolerir memiliki kelemahan, bukan hanya untuk diri pribadinya. Namun
juga bagi isteri, anak-anak dan semua keluarganya. Masyarakat mudah
mengalami kekecewaan fatal bahkan keputusasaan apabila melihat ada
kekurangan pada diri sang hero, atau pada isteri dan anak-anaknya.
Keteladanan dituntut untuk selalu dipenuhi, bahkan oleh anak-anak yang
tidak banyak mengerti beban orang tua mereka yang terlanjurkan
diidolakan sebagai sosok pahlawan super. Isterinya harus super,
anak-anaknya harus super, keluarga besarnya harus super. Betapa
berlebihan tuntutan ini.
Namun ada pula para
pejuang yang memilih menikmati menjadi dirinya sendiri apa adanya.
Seorang manusia yang penuh kelemahan dan keterbatasan. Di tengah
kelemahan dan keterbatasan diri, ia mencoba menjadi seseorang yang
memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Memberikan kontribusi kebaikan
sekuat kemampuan yang dia miliki. Waktu, tenaga, pikiran, harta benda
dia curahkan untuk melakukan hal terbaik yang bisa dia sumbangkan bagi
perbaikan bangsa dan negara. Mungkin tidak terlalu memuaskan masyarakat,
mungkin tidak heroik, mungkin tidak dielu-elukan oleh para pemuja
kepahlawanan. Namun ia selalu berusaha memberikan yang terbaik.
Dia melihat dunia
dengan dua kacamata pada saat bersamaan. Satu kacamata idealis, dia
memiliki visi yang sangat jelas tentang hal-hal ideal yang harus
dilakukan dan harus terjadi bagi bangsa dan negara. Satu lagi kacamata
realis, bahwa dia melihat Indonesia tidak cukup diubah oleh keteladanan
beberapa sosok pahlawan. Indonesia hanya memerlukan kebersamaan untuk
melakukan perubahan, memerlukan konsistensi untuk menegakkan aturan,
memerlukan kedisiplinan untuk menjalankan agenda kebangsaan dan
kenegaraan. Indonesia memerlukan harmoni dari pagelaran orkestra
berbangsa dan bernegara.
Dia tidak mau
terkurung ke dalam sosok pahlawan ideal seperti yang digambarkan
masyarakat. Benarkah perubahan Indonesia harus dimulai dari sosok-sosok
profan yang tak memiliki sedikitpun kekurangan, cacat, kelemahan dan
kesalahan ? Bukankah itu hanya layak dinisbatkan kepada para Nabi dan
Rasul yang dimuliakan Tuhan dengan tugas-tugas Ketuhanan ? Dia merasa
hanyalah manusia biasa yang berusaha melakukan perubahan ke arah
kebaikan, semaksimal kemampuan yang dia miliki. Namun dia mengetahui ada
sejumlah sisi-sisi kemanusiaan dalam dirinya yang akan sulit dipahami
oleh publik.
Sering terbersit
dalam kesendiriannya, apakah hanya ada dua pilihan menjalani kehidupan
bagi bangsa Indonesia ? Pilihan menjadi pahlawan super hero yang
dipuja-puja seluruh masyarakat, dan pilihan menjadi pecundang yang
dicela oleh semua media, tanpa sisa ? Tidak adakah pilihan menjadi diri
sendiri yang jujur apa adanya, menjadi seseorang yang penuh
keteterbatasan dan kelemahan, namun selalu berusaha menyumbangkan
kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara ? Dimanakah tempat orang-orang
seperti ini ? Apa nama dan nilai mereka ini ? Menjadi pahlawan ataukah
pecundang ?
Menjadi super hero
tanpa cela betapa sangat sulitnya. Siapa yang akan sanggup menempati
posisi seperti ini, siapa yang akan merelakan dirinya berada dalam
sebuah suasana pencitraan, untuk memenuhi harapan dahaga masyarakat akan
sosok-sosok keteladanan ? Menjadi pejuang tanpa kelemahan dan
kekurangan, betapa beratnya. Menjadi pahlawan tanpa sedikitpun tercemar
oleh cela yang dilakukan oleh dirinya, isteri, anak-anak dan keluarga
besarnya, siapa sanggup menempuhnya ? Inilah episode kepedihan setiap
pahlawan dan pejuang.
Saya berusaha
memilih sesuatu yang masuk akal dan sesuai hati nurani. Saya bukan
seorang pahlawan, bukan seorang super hero, bukan seorang super man,
atau semacam itu. Saya hanyalah seorang anak bangsa yang memiliki
teramat sangat banyak kekurangan, kelemahan, keterbatasan dan hal-hal
tidak ideal. Dari sudut pandang apapun. Namun saya sangat meyakini bahwa
kebaikan besar bermula dari kebaikan-kebaikan kecil. Saya sangat
meyakini hal-hal luar biasa bisa bermula dari konsistensi melakukan
hal-hal yang biasa.
Terserah orang
menyebut apa terhadap hal yang saya lakukan. Saya berjalan pada sebuah
keyakinan, pada sebuah arah tujuan. Saya berjalan pada sebuah bingkai
cita-cita perubahan, namun saya hanyalah seorang manusia yang penuh
keterbatasan. Isteri saya hanyalah seorang perempuan biasa, sangat
biasa, yang memiliki sangat banyak kekurangan. Anak-anak saya hanyalah
anak-anak yang terlahir dari sejarah pernikahan, dan mereka menjadi
dirinya yang tidak bisa dibebani dengan harapan orang atas ayah mereka.
Namun dengan segala titik kelemahan dan kekurangan kemanusiaan tersebut,
saya selalu berusaha melakukan hal-hal baik yang mampu saya lakukan.
Memproduksi kebajikan semaksimal kesanggupan yang ada pada saya.
Tidak bolehkah
memiliki pilihan sederhana seperti ini ? Haruskah kita memilih menjadi
pahlawan tanpa cela, atau sekalian memilih menjadi pecundang yang dicela
serta dilaknat seluruh media ? Sedih sekali hidup kita, jika
terbelenggu oleh “apa kata orang kepada kita”. Sedih sekali, jika hidup
kita harus menyesuaikan dengan selera media. Sempit sekali dunia, jika
kita harus menjadi sosok-sosok utopis yang diimpikan para pemuja epos
kepahlawanan dunia. Hingga orang tidak berani berbuat dan berkata
apa-apa, karena takut dilaknat media. Hingga orang takut melakukan upaya
perbaikan semampu yang dia bisa, karena takut dicela massa.
Setiap hari
berseliweran sms, mengkonfirmasi berita ini dan itu di media massa.
Mencela, melaknat, mencaci maki, menghakimi semau sendiri, memastikan
keburukan orang, mengimani berita media massa tentang perilaku
seseorang. Sms berseliweran tanpa tuan, menghakimi tanpa persidangan,
memutuskan tanpa penjelasan, memastikan tanpa pertanyaan, menuduh tanpa
kelengkapan persyaratan, membunuh karakter tanpa alasan. Semua orang
ketakutan, semua orang gelisah, tiarap, takut dirinya tengah dirilis
media. Takut dirinya tengah dibicarakan koran. Takut dirinya menjadi
berita utama di sms yang berseliweran setiap detik, setiap kesempatan.
Seakan dunia telah
kiamat, saat seseorang pejuang dituduh melakukan kesalahan. Seakan
kebaikan telah hilang, saat sosok pahlawan yang diidamkan teropinikan
melakukan pelanggaran. Hancur sudah dunia kepahlawanan, habis sudah
sejarah para pejuang, tamat sudah riwayat para pembela kebenaran. Hari
ini juga semua jiwa telah binasa. Kita menjadi orang yang
berlebih-lebihan melihat, menanggapi, mengomentari segala sesuatu. Baru
running text, baru rilis koran, baru kilas berita televisi dan
cybermedia. Tiba-tiba sms sudah menyebar kemana-mana. Tiba-tiba
kepercayaan sudah sirna. Tiba-tiba kehangatan sudah tiada. Berpuluh
tahun kita merajutnya. Hilang sesaat begitu saja ?
Inilah sisi
kepedihan dalam setiap epos kepahlawanan dan kepejuangan. Setiap
pahlawan, setiap pejuang selalu dihadapkan kepada kondisi-kondisi
kemanusiaan yang sulit dimengerti para pemuja mereka. Media telah
menghukum tanpa ampunan. Headline setiap hari. Heboh, bombastis,
sinistis. Mematikan hati yang terlalu ciut menerima kritik dan lontaran
tajam. Mematikan semangat yang terlampau dingin untuk melakukan berbagai
kebajikan. Cita-cita dan tujuan seakan sudah terlupakan oleh opini
koran dan berita harian.
Silakan tidur dan
berhenti dari kebaikan, maka para setan akan pesta pora merayakan
kemenangan. Silakan menyesal menempuh jalan panjang bernama kebajikan,
tempuh jalan lain yang lebih menyenangkan pemberitaan. Hanya itukah
tujuan kita ? Mendapat pujian, mendapat pengakuan, mendapat ucapan
selamat dan penghargaan atas kesantunan, kesalehan, kebaikan, kejujuran,
dan kebersihan yang ditampilkan ? Tidak siap mendengar kritik tajam,
caci maki, cemoohan masyarakat dan media massa ? Tidak kuat mendengar
ledekan, tertawaan, gunjingan, dan kekesalan orang ?
Adakah anda rasakan
kesedihan yang saya tuliskan ? Kesedihan di setiap epos kepahlawanan dan
kepejuangan. Kesedihan yang tidak bisa dibagi dengan para pemuja
pahlawan. Kesedihan yang harus dikunyah dan dinikmati sendiri oleh
setiap orang yang berjuang dalam kebaikan. Jika anda merasakan, saya
ajak anda menyublimkan kesedihan itu menjadi sebuah karya nyata, sekecil
apapun yang kita bisa.
Menyublimkan
kepedihan menjadi amal kebaikan berkelanjutan yang kita lakukan dalam
setiap tarikan nafas. Jangan menguapkannya, karena jika diuapkan
kesedihan hanya akan hilang namun tidak menghasilkan karya. Ya, anda
harus menyublimkan kepedihan ini menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Menjadi sesuatu yang menyemangati diri. Menjadi sesuatu yang menasihati.
Menjadi sesuatu yang bernilai abadi. Menjadi sesuatu yang bernama
kontribusi.
Setiap cemoohan dan
ejekan akan menambah kesedihan di hati para pejuang. Setiap
ketidakberhasilan akan menggoreskan kegetiran pada dada setiap pejuang.
Kesedihan itu harus disublimasi menjadi karya yang berarti. Setiap hari
kita telah terbiasa menumpuk kelelahan, kesedihan, kegetiran, kepedihan,
dari yang terkecil hingga yang paling dalam. Menyublimkan kegetiran
akan mengubahnya menjadi kerja nyata bagi bangsa dan negara. Apa artinya
dipuji-puji jika tidak memiliki kontribusi yang berkelanjutan ? Apa
salahnya dicaci maki jika itu memacu kontribusi yang lebih berarti bagi
perbaikan ?
Mari bekerja di
ladang-ladang amal kita yang sangat luas tanpa batas. Silakan mencela
bagi yang hobi mencela. Silakan melaknat bagi yang gemar melakukannya.
Silakan berhenti dan menepi bagi yang sudah tidak memiliki kepercayaan
lagi. Sekecil apapun langkah kebaikan kita lakukan, pasti tetap menjadi
kontribusi yang berarti bagi negeri. Keyakinan ini tak bisa ditawar
lagi. Tuhan telah mengumandangkan, hal jaza-ul ihsan illal ihsan. Apakah
kita tetap juga tidak memahami ?
Kita serahkan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Mengerti.
Malili, Luwu Timur, Sulawesi Selatan 9 April 2011
Penulis : Cahyadi Takariawan





